uang mlengkung

Cari Blog Ini

Home » » Otak Doyan Belanja dan Nonton Video Porno Setipe

Otak Doyan Belanja dan Nonton Video Porno Setipe

Written By m imron on Kamis, 30 September 2010 | 10.05

Kamis, 16/09/2010 11:45 WIB

Otak Doyan Belanja dan Nonton Video Porno Setipe

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
London, Berbelanja bisa jadi merupakan kegiatan favorit terutama bagi kaum perempuan. Studi terbaru menunjukkan bahwa belanja bisa memiliki efek yang sama seperti menonton film porno yakni sama-sama merangsang otak seperti gairah seks.

Peneliti menemukan bahwa pada saat berbelanja dengan berbagai macam diskon atau promosi ternyata memicu timbulnya respons mental yang mirip dengan gairah seksual.

Ilmuwan dari University of Westminster melibatkan 50 orang partisipan dalam penelitian ini. Partisipan dimonitor gerakan mata dan respons emosionalnya terhadap produk tertentu. Hasil monitoring ini dinilai dengan menggunakan skala satu hingga sepuluh.

Nilai yang paling tinggi, yakni sepuluh setara dengan kondisi trauma parah dan bisa berbahaya. Tapi jika memiliki nilai lima hingga tujuh, maka respons yang keluar adalah kegembiraan tubuh seperti melihat gambar erotis atau pornografi.

Pembeli atau konsumen yang melihat penawaran khusus pada produk favoritnya misalnya kupon hadiah tertentu atau membeli satu dapat dua, bereaksi seolah-olah sedang menonton pornografi atau gambar erotis.

Survei menunjukkan beberapa promosi atau diskon memberikan nilai 5,8 pada konsumen, termasuk membeli sesuatu dan berhadiah barang lainnya.

Para ahli pemasaran mempercayai bahwa pembeli rata-rata membuat keputusan apakah jadi membeli suatu barang atau tidak hanya dalam waktu dua detik setelah ia melihat ada sebuah penawaran yang menonjol.

Hasil penelitian ini memang masih termasuk langkah awal dan belum sepenuhnya lengkap, namun hasil ini telah terungkap dalam jurnal The Grocer. Karenanya masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengapa kondisi tersebut bisa terjadi.

"Penelitian ini masih terlalu dini, tetapi hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara respons emosional yang tinggi dengan meningkatnya jumlah penjualan," ungkap Colin Harper of the Institute, seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (16/9/2010).





(ver/ir)
Share this post :

Posting Komentar