uang mlengkung

Cari Blog Ini

Home » » Pemerintah Kaji Pembentukan Pusat Terapi Kecanduan Pornografi Anak

Pemerintah Kaji Pembentukan Pusat Terapi Kecanduan Pornografi Anak

Written By m imron on Kamis, 30 September 2010 | 09.59

Senin, 27/09/2010 12:08 WIB
Pemerintah Kaji Pembentukan Pusat Terapi Kecanduan Pornografi Anak  
Laurencius Simanjuntak - detikNews



Jakarta - Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengkaji pembentukan Pusat Terapi Adiksi Pornografi bagi anak-anak. Hal ini mengingat demikian hebatnya bahaya pornografi bagi perkembangan fisik dan mental anak bangsa.

"Ini (pusat terapi) ilmu baru, isu baru. Sudah menjadi isu internasional. Oleh karenanya kita menghadirkan ahli dari luar untuk mendapatkan ilmu baru," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar.

Hal itu disampaikannya di sela-sela Seminar Internasional tentang Penanggulangan Adiksi Pornografi, di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Senin (27/9/2010). Acara menghadirkan pakar adiksi pornografi dari USA, Mark B Kastleman dan Randall F Hyde.

Linda mengatakan, perkembangan teknologi informasi memang memberikan dampak positif bagi penguasaan atas akses informasi. Namun, pada perkembangannya, teknologi informasi tersebut juga membawa dampak negatif pada tumbuh kembang otak anak.

"Yaitu berupa berkurangnya jumlah ujung saraf antar-sel, karena gagal melakukan modifikasi ujung syaraf (synaps) yang berakibat terhentinya tumbuh dan berkembangnya otak anak," kata Linda.

Dalam bahan tertulis yang di seminar disebutkan, kerusakan otak akibat pornografi sulit dideteksi dengan cara-cara konvensional dan memerlukan alat-alat yang canggih untuk dapat menegakkan kerusakan struktural otak di 5 tempat vital, yakni bagian Lobus Frontal, Gyrus Insula, Nucleus Accumbens Putamen, Cingulate dan Cerebellum.

Lima tempat vital itu berperan dalam mekanisme kontrol perilaku yang menumbulkan perbuatan berulang-ulang terhadap pemuasan seksual (addict pornografi).

"Dalam jangka panjang hal itu bisa mengakibatkan penyusutan sel otak sampai kerusakan otak permanen dan pada akhirnya anak tidak siap dididik karena rendahnya kualitas otak untuk menerima informasi pembelajaran berbasis pemecahan masalah," jelas Linda.

Linda mengakui, belum ada langkah konkret yang akan dilakukan pemerintah untuk membentuk terapi adiksi pornografi anak ini. Pemerintah masih pada tahap menyerap berbagai ilmu untuk kemudian melakukan langkah-langkah ke depan.

"Tentunya akan ada langkah-langkah selanjutnya," kata dia.

(lrn/mad)
Share this post :

Posting Komentar