uang mlengkung

Cari Blog Ini

Home » » Sperma yang Kental Belum Tentu Lebih Subur dari sperma yang encer

Sperma yang Kental Belum Tentu Lebih Subur dari sperma yang encer

Written By m imron on Jumat, 22 Juli 2011 | 05.21

Kamis, 17/02/2011 18:04 WIB 

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth



img 

foto: Thinkstock

Jakarta, Kebanyakan pria pasti khawatir jika spermanya terlalu encer, karena kekentalan termasuk indikator sperma yang berkualitas. Namun sperma yang kental juga tidak selalu bagus, sebab jika terlalu kental justru akan kesulitan membuahi sel telur.



Cairan sperma yang berkualitas punya karakteristik agak kental karena mengandung protein. Sifat protein adalah mudah menggumpal (koagulasi) ketika terlibat kontak dengan udara, sehingga tingkat kekentalan bisa diukur dari lamanya sperma menggumpal.



Normalnya sperma akan menggumpal dalam waktu 20-30 menit jika dibiarkan di udara terbuka. Sperma yang terlalu encer butuh waktu lebih lama untuk menggumpal dan biasanya dipicu oleh jumlah sel sperma yang terlalu sedikit atau adanya infeksi di saluran kemih.



Meski demikian bukan berarti cairan sperma yang cepat menggumpal selalu lebih poten atau subur dibandingkan yang lebih encer. Sperma yang terlalu cepat menggumpal alias terlalu kental justru menyulitkan sel sperma untuk berenang menuju sel telur yang akan dibuahi.



Dikutip dari WebMD, Kamis (17/2/2011), kekentalan cairan sperma memang jarang menjadi penyebabtunggal ketidaksuburan pada pria. Artinya, sperma yang terlalu kental sebenarnya tidak terlalu mempengaruhi kualitas sperma dalam kaitannya dengan kemampuan untuk membuahi sel telur.



Namun dalam banyak kasus, sperma yang terlalu kental erat hubungannya dengan kondisi lain yang mengurangi kesuburan pria, misalnya prostatitis atau infeksi saluran prostat. Kekentalan sperma sering dipakai oleh dokter urologi untuk mendeteksi infeksi tersebut.



Pada kondisi semacam ini, kualitas sel sperma yang dihasilkan umumnya akan menurun. Apalagi dengan cairan sperma yang menjadi lebih kental, sel sperma harus diencerkan secara manual lalu disuntikkan ke sel telur melalui inseminasi buatan jika ingin punya anak.


(up/ir
Share this post :

Posting Komentar